Sebuah referensi utama dalam masalah kepemimpinan dan ketrampilan sosial sudah banyak diterapkan di berbagai organisasi. Dale Carnegie merupakan pakar di bidang yang khusus seperti self-improvement, salesmanship, corporate training, public speaking dan interpersonal skills. Sebagai penulis sekaligus dosen, karya-karyanya masih tetap dipelajari orang-orang berkelas sampai sekarang. Di antara bukunya yang terkenal adalah:
- Public Speaking and Influencing Men In Business. Association Press.
- How to Win Friends and Influence People. A self-help book about interpersonal relations. Simon and Schuster.
- How to Stop Worrying and Start Living. A self-help book about stress management. Simon & Schuster.
- Lincoln the Unknown by Dale Carnegie. A biography of Abraham Lincoln. Dale Carnegie & Associates, Inc.
- The Quick and Easy Way to Effective Speaking. A Revision of Public Speaking And Influencing Men In Business by Dorothy Carnegie. Dale Carnegie & Associates, Inc.
- The Leader In You. How to Win Friends, Influence People, and Succeed in a Changing World
Sedikit dari apa yang dituliskan tersebut memberikan pembelajaran sosial yang penting. 10 ketrampilan sosial yang patut dipikirkan demi pengembangan pribadi kita, sebagai apapun status sosial kita, adalah:
Pertama. Kendalikan emosi anda sendiri.
“If you want to be enthusiastic, act enthusiastic.”
Pengembangan pribadi bermuladari diri sendiri. Tidak ada orang yang akan bisa mengubah antusiasme kita terhadap berbagai persoalan yang sedang kita hadapi. Apabila kita mengingin sikap positif, bukan orang lain harus memulainya. Detik ini juga kita harus mengubah pandangan, pemikiran dan perasaan kita tentang apa saja yang menjadi persoalan hidup kita. Berpikir positif berarti menguatkan, sedang berpikir negatif berarti kita melemahkan diri sendiri. Hal ini berarti untuk pribadi maupun kelompok sosial tertentu. Go positive!
Kedua. Tidak ada kaitannya dengan masalah logika.
“When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion.”
Ketika berhubungan, bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain, satu persoalan yang perlu diingat adalah bahwa kita sedang tidak berinteraksi makhluk logis. Tetapi, selalu saja orang yang kita hadapi merupakan makhluk emosional. Siapapun mereka, ternyata kekuatan emosi dan ego mereka lebih dominan dari kekuatan logika dan intelektual mereka. Komunikasi bahasa yang kita gunakan sebagai persiapan untuk menyampaikan pesan dan harapan kita sebelumnya tidak terlalu membantu apabila kita tidak menyadari apakah bahasa tubuh kita ikut menguatkan pandangan kita.
Kekuatan intonasi suara dan bahasa tubuh ternyata jauh lebih besar daripada seluruh rangkaian kalimat yang tersusun rapi dalam komunikasi kita.
Ketiga. Tiga masalah yang harus dibuang jauh
“Any fool can criticize, condemn, and complain but it takes character and self control to be understanding and forgiving.”
Orang Inggris menggunakan istilah tiga “C”. Sementara kita cukup saja menghindari tiga “M” yang bukannya mempererat hubungan kerja tetapi justru merusak kesempatan sekecil apapun. Tidak perlu kita mengkritik, mencela dan juga mengeluh di hadapan lawan bicara kita. Bagian sikap dan perilaku terpenting dalam menjalin hubungan baik dengan sesama kolega atau antara atasan dan bawahan adalah tidak sikap dan tindakan yang menyakit perasaan orang lain. Harga diri merupakan harta yang paling berharga yang tidak boleh ambil dari seseorang. Hanya orang bodoh yang menerapkan pola tiga “M” pada saat berkomunikasi dalam konteks apapun.
Saling mengerti dan saling memaafkan menjadi modal kuat untuk kelanggengan hubungan kerja yang baik.
Keempat. Apa yang terpenting?
“The royal road to a man’s heart is to talk to him about the things he treasures most.”
Nasehat yang sederhana. Tidak perlu kita mengumbar cerita tentang apa-apa yang ada pada kita sendiri. Diam sejenak. Tunjukkan perhatian penuh terhadap lawan bicara yang ada di hadapan kita. Tahan kembali cerita yang kita miliki. Berikan pertanyaan untuk menunjukkan perhatian tentang mereka. Masalah anak, hobi dan pekerjaan bisa membuat mereka memiliki kesan baik dalam berkomunikasi.
Kelima. Fokus keluar, bukan ke dalam.

communicating with others
“You can make more friends in two months by becoming interested in other people than you can in two years by trying to get other people interested in you.”
Menonjolkan diri dengan mengatakan “saya”, “saya”, dan “saya” tidak akan membuat orang lain tertarik dan simpati. Besar kemungkinan, orang-orang yang mendengar cerita kita ini merasa bosan, tetapi mereka tidak ingin menyinggung perasaan kita. Apalagi bila posisi mereka di bawah kita. Sikap menonjolkan diri justru membuat lawan bicara berusaha menahan diri dan tidak sempat mengutarakan perasaan mereka. Egoisme menghalangi keharmonisan hubungan sosial.
Untuk membangun komunikasi dan interaksi sosial yang bermakna, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bercerita dan mengutarakan persoalan mereka akan lebih penting di sini.
Keenam. Pengendalian diri dan emosi.
“The person who seeks all their applause from outside has their happiness in another’s keeping.”
Kemampuan seseorang untuk menahan diri penentu kebahagiannya. Mengumbar emosi ketika berhadapan dengan orang lain menjadikan berkurangnya rasa simpati mereka terhadap kita. Misalkan kita menjadi pimpinan, maka bawahan kita hanya merasa takut kalau tidak memperhatikan dan mentaati perintah kita. Sementara itu, kemampuan menahan diri akan menjadi sukses dalam menjalin komunikasi yang harmonis.
Ketujuh. Tidak ada yang menghalangi.
“Instead of worrying about what people say of you, why not spend time trying to accomplish something they will admire.”
Dalam pergaulan, perasaan cemas sering menghantui kitatentang apa yang akan terjadi apabila kita berusaha untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sosok pemimpin mungkin merupakan orang yang disegani, dan bawahan yang berusaha menyampaikan gagasan merasa ragu-ragu melangkah kakinya untuk mendekat.
Persoalannya tidak terletak kepada siapa yang akan kita hadapi. Namun, lebih sering yang menjadi penentu adalah rasa percaya diri yang kita miliki. Kalau kita memiliki motivasi dan percaya diri yang kuat, pemikiran yang kita sampaikan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita bisa disampaikan dengan lancar. Keraguan bahwa apa yang kita sampaikan nanti akan dianggap salah seharusnya membuat kita berani mengoreksi kembali persiapan diri kita. Pemikiran yang baik dan logis, terutama dengan cara penyampaian yang penuh percaya diri, akan membuat audiensi kita berhasil dan diterima banyak orang.
Kedelapan. Perhatikan apa yang ada di dalam.
“There is only one way… to get anybody to do anything. And that is by making the other person want to do it.”
Dasar orang lain mau melakukan apa yang kita harapkan adalah munculnya rasa peduli dan motivasi yang ada di dalam diri mereka. Sekuat apapun pengaruh kita, belum tentu kita bisa memaksa orang lain, terutama yang teguh pendiriannya, untuk mengakui dan melaksanakan gagasan yang kita berikan kepada mereka.
Efektivitas seorang pemimpin hanya akan terbukti bukan karena pandangannya, melainkan juga karena dukungannya terhadap kesuksesan bersama. Komando atau perintah pemimpin juga bisa ditaati kalau sang pemimpin memberikan dukungan lainnya, misalkan dengan perhatian dan bimbingan.
Kesembilan. Cara memenangkan argumentasi.
“The only way to get the best of an argument is to avoid it.”
Berargumentasi atau perang mulut tidak akan menyelesaikan masalah. Persoalan organisasi dan hubungan sosial yang baik hanya bisa dibangun dengan adanya saling pengertian di antara sesama kita. Pemimpin ataupun bawahan pada dasarnya memiliki kesamaan dan kesejajaran dalam berpendapat. Apabila sebuah debat kusir terjadi, sebaiknya argumentasinya tidak perlu dilanjutkan. Ada baiknya saat itu kita pergunakan untuk menjalankan proses ‘cooling down’, sampai masing-masing orang yang terlibat sama-sama bisa menahan emosinya.
Kesepuluh. Bukan hanya sekedar kata-kata.
“There are four ways, and only four ways, in which we have contact with the world. We are evaluated and classified by these four contacts: what we do, how we look, what we say, and how we say it.”
Kontak sosial di mana saja memberlakukan karakteristik yang sama. Hubungan baik kita dengan banyak orang di sekitar ternyata bukan dibangun dengan gagasan-gagasan yang kita sampaikan. Ungkapan sederhananya, “Ini bukan hanya janji, melainkan bukti.” Sebagian orang begitu percaya diri dengan pemikirannya. Namun dalam kenyataan, banyak orang yang tidak mempercayainya. Pernyataan yang tidak sesuai dengan sikap dan perilaku akan selalu mendatangkan masalah bagi orang itu sendiri maupun bagi orang di sekitarnya.
Sukses dalam menjalin hubungan sosial yang harmonis dan organisasi yang efektif tentu saja menerapkan pola dasar kepemimpinan yang jelas. Perhatian orang lain di mana saja selalu akan memperhatikan empat persoalan: apa yang kita lakukan, bagaimana kita melihatnya, apa yang kita utarakan, dan bagaimana cara kita mengutarakannya.