Psikopat menjadi kepala sekolah

December 7th, 2011, posted in Leadership, Perjalanan

Kurang ajar. Temanku yang menjadi pejabat mengundang aku agar datang ke rumahnya. Memang bukan teman akrab, tapi aku cukup kenal dengan kiprahnya di kantor kementrian. Ia cukup menonjol dalam perjalanan karirnya. Dalam rentang waktu yang tak lama ia sudah menduduki jabatan yang meyakinkan. Sebagai pemegang kendali, ia memiliki kewenangan untuk mengusulkan dan memilih siapa saja yang layak dipromosikan sebagai kepala sekolah. Pembicaraanku dengan pejabat inilah yang membuat aku mengumpat.

Pejabat tersebut menyatakan,  “Begini, Pak. Saya tahu kalau orang yang akan menjadi kepala sekolah di sana nanti memang bukan orang yang progesif. Saya tahu itu. Namun saya meminta pertimbangan sampeyan, bagaimana caranya orang ini bisa menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah di sana? Minimal tidak menimbulkan gejolak!”

Aku terdiam. Nama yang disebutkan oleh pejabat ini tak pernah terdengar di telingaku. Atau, sebenarnya aku jarang sekali bergaul dengan pejabat di lingkungan kementrian. Aku terlalu fokus dengan tugas sebagai guru, mengajari siswaku berbahasa Inggris. Aku juga tak terlalu banyak komentar tentang alasan orang-orang kementrian untuk mengangkat calon kepala sekolah dari jajaran struktural, bukan dari kalangan guru yang memiliki pengalaman di lapangan. Dunia pendidikan–sekolah, tempat generasi penerus mendidik diri sebagai calon pemimpin bangsa ternyata telah dijadikan obyek sampingan untuk para makelar jabatan.

Pertemuanku dengan temanku itu sudah berlangsung lama. Aku tak berusaha mengingatnya. Perjalanan hidup dan karir yang sulit saja menjadi cerita utamaku. Kepala sekolah yang sekarang menjabat adalah seorang psikopat.

Sulitnya berhubungan dengan orang-orang sulit

November 17th, 2011, posted in Leadership, Perjalanan

Berteman dengan sesama, yaitu orang yang sejalan pemikiran dan pandangannya, saya pikir tidak terlalu menantang. Komunikasi model apa saja bisa kita jalankan tanpa memberikan resiko yang besar.  Kita selalu bisa menerapkan prinsip sosial “take and give” sepanjang kita butuhkan. Setiap kita mengajukan suatu pembuka pembicaraan, teman kita akan nyambung saja tentang arah pembicaraan. Semua akan berjalan tanpa hambatan berarti.

Karena jelas tidak menantang, maka tingkat pembelajaran di antara orang yang berfilsafat hidup sama tidak begitu mendalam. Akan tetapi, kalau kita kebetulan saja bertemu dengan satu atau beberapa orang yang memiliki karakter yang berbeda karakter pribadinya dengan kita sendiri, maka hubungan sosial kita mengalami guncangan-guncangan mental dan spiritual yang asal mulanya hanyalah konflik kecil. Kedua belah pihak berusaha saling mempengaruhi dan menunjukkan keunggulan karakternya. Dalam situasi semacam ini, kedewasaan kita secara pribadi dan sosial benar-benar mengalami ujian. Di sini pula akan terjadi benturan-benturan budaya yang cukup nyata. Kalau mereka tidak mudah menerima jalan pemikiran kita, dalam pandangan kita, mereka kita anggap sebagai orang sulit. Di pihak lain, karena kita juga dianggap tidak cepat beradaptasi dengan gaya dan cara berpikir mereka, kita juga dilabeli sebagai orang sulit.

Sejauh apa kita mau bersosialisasi? Apakah hubungan kita nantinya akan bersifat temporer atau agak lama? Beberapa pertimbangan lain akan menentukan tingkat kesulitan kita dalam bersosialisasi. Pertanyaan sederhananya, siapa yang akan larut–kita atau mereka? Kalau kita tidak segera menyadari keadaan ini, akan menjadi sebuah gejala munculnya kesulitan dalam berinteraksi sosial secara bersama-sama. Bisa dicari tahu juga, siapa orang sulitnya?

Ajari saya ngeblog!

March 1st, 2011, posted in Life Style

Di dunia pendidikan, website dan weblog sudah banyak dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Guru bisa memanfaatkan sebagai media penyebaran informasi dan materi pelajaran yang diampunya. Siswa bisa mengakses ilmu pengetahuan yang melimpah. Weblog, website dan internet menjadi perpustakaan yang super besar. Lembaga pendidikan juga menggunakan internet untuk menyebarkan informasi. Ini semua menandakan betapa besar manfaat weblog dan website.

Melihat besarnya manfaat internet, ditunjang dengan fasilitas blogging, sayang masih banyak sebenarnya orang belum mau dan belum memanfaatkan weblog dan website untuk kepentingan apapun. Di antara pendidik pun juga tidak kurang jumlah mereka yang buta dan tidak tahu harus berbuat apa dengan laptop yang sudah mereka miliki. Besarnya dana sertifikasi dan ketentuan untuk mengenal dan bisa mengoperasikan komputer belum serta merta membuat guru berubah dan mendadak bisa ngeblog. Tentu saja ada orang yang berkata, “Ajari saya ngeblog!” Meski di lain tempat, ada orang yang menyatakan kalau diharuskan menulis di blog, mereka akan sangat merasa keberatan. Dari sekian banyak guru yang saya kenal, mereka yang mengenal teknologi internet dan bisa ngeblog bisa dibilang hanya sekitar sepuluh persen. Itupun merupakan angka yang sudah berlebihan.

Barangkali, pertanyaan  saya yang berikutnya adalah “Kapan kita belajar ngeblog bersama?”

Cerita yang merusak citra

February 19th, 2011, posted in Life Style

Kadang kita bersikap seperti layaknya politisi atau artis. Pada dasarnya kita memang berbakat untuk itu. Kalau tidak percaya, nyanyian yang akrab di telinga kita \”dunia ini panggung sandiwara.\” Begitulah kita sebenarnya.

Tidak dilarang, untuk siapa saja, jika kita memiliki keinginan mempromosikan diri agar dikenal orang sebagai orang baik, orang hebat, atau orang yang pintar. Ini juga harus kita lakukan kalau kita mau diterima bekerja di sebuah perusahaan bonafit. Tanpa ada usaha kita bergaya, maka alamat nyata kalau kita tidak bisa diterima di perusahaan tersebut. Kita bilang \”dikit-dikit menipu bolehlah!\” Menjadi artis pun perlu melakukan audisi untuk mengetahui seberapa besar bakat \’keartisan\’ yang kita punya. Secara gamblang kita tidak bisa mengandalkan nasib baik. Kemampuan baik untuk \’menceritakan\’ apa saja yang dapat kita lakukan menjadi power dan ilusi yang bisa menyihirkan orang di depan kita. Kita harus berani tampil mempesona.

Usaha mencapai keberhasilan hidup dibolehkan,  meski dengan cara apa saja. Namun, dengan ini saya menyampaikan adanya rambu-rambu yang sangat perlu

Berapa lama harus bersabar?

February 12th, 2011, posted in Life Style

menantang mautMengalami cobaan atau ujian dalam hidup adalah suatu hal yang biasa. Permasalahan yang berat dan ringan bisa dirasakan siapa saja, tidak memandang status sosialnya. Sadar akan ketentuan itu, aku masih saja berusaha berbagi cerita suka duka yang aku alami dengan orang lain. Tujuanku sederhana, barangkali saja aku bisa melegakan sesak nafas di dadaku. Aku tidak ingin merasakan dan memikirkan sendiri apa yang aku alami dalam perjalanan hidup yang terasa semakin di dua tahun terakhir ini.

Semula aku beranggapan bahwa orang bisa meraih masa kejayaannya di sekitar usia empat puluhan. Aku sudah sangat percaya dengan ungkapan banyak orang ini. Namun, ternyata pengalaman hidup yang aku alami merupakan penyimpangan dari kebiasaan yang umum terjadi dan benar di banyak orang orang. Aku mengalami suatu masa yang bisa dikatakan sebagai ‘jungkir balik.’ Nasibku berubah drastis pada saat ada orang baru yang justru menduduki posisi puncak di lingkungan kerjaku. Dialah orang yang semestinya menjadi pemimpin kami. Dari orang inilah aku mengalami banyak fitnah dan bahkan pelecehan dunia kerja. Orang yang memimpin itu lebih suka mendengarkan laporan-laporan sepihak dan bersifat menjatuhkan aku. Dia juga orang yang buta dan tuli, lantaran tidak memiliki pemikiran dan pandangan yang bijak layaknya seorang pimpinan.

Bisa dikatakan bahwa aku sudah bercerita kepada banyak orang tentang pengalaman pahit, dimusuhi atasan sendiri. Orang ini bahkan sudah mulai memberlakukan pernyataan perang sejak seminggu dia berada di lingkungan kerjaku. Ini yang membuat aku sangat heran. Bagaimana bisa dia memblokir akses karirku sedari awal. Dari mana saja dia mendapatkan informasi miring tentang aku.

Sekarang ini sudah sekitar dua tahun pengalaman pahit ini aku jalani. Semua orang yang aku ajak bicara selalu mengatakan, “sabar’. Dan, aku merasa tahu siapa orang yang ikut memerangi aku. Selain itu, aku telah banyak orang yang memproklamirkan dirinya sebagai mantan teman. What is a friend for? Mereka mencari keuntungan dan keselamatan karena tidak ingin ‘berdarah-darah’ dengan mendapat kemalangan karena berdekatan dengan aku.

Memang ada sinyal-sinyal kuat bahwa pemimpin ini justru dianggap tidak layak oleh atasannya. Dari kantor wilayah sudah muncul isyarat agar orang ini segera dilaporkan saja secara tertulis. Meski bukan aku sendiri yang mengalami perlakuan buruk, ternyata orang lain hanya menjadikan aku sebagai gacoan. Mereka tidak berani bersuara.

Lagi kumat

December 31st, 2010, posted in Life Style

Ngeblog adalah hidup. Tak disangka aku tersandung dengan kegiatan ngeblog ini sehingga lupa ada  hidup lain yang harus aku capai.

Begitu fokusnya aku di depan notebook milik anakku, semua pekerjaanku jadi terbengkelai. Memang begitulah adanya diriku. Aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk menuliskan apa saja yang terlintas dalam pikiran. Sayang aku bersifat impulsif. Bareng dengan pola perfectionis aku tidak pernah tuntas dalam melakukan sesuatu. Postingan cukup bisa dikatakan morat-marit.

Terlalu banyak pengharapan

November 1st, 2010, posted in Perjalanan

Hidup adalah perjalanan hati. Begitu banyak yang telah aku alami, meski hanya beberapa bagian perjalanan saja yang aku masukkan ke dalam lembaran catatan. Aku banyak mengabaikan, sebab tidak bisa diungkapkan. Aku berhati-hati agar tidak terlalu membebani siapa saja yang sempat menelusuri dan membaca catatanku di sini. Atau, sebenarnya aku tidak terlalu bisa berterus terang tentang apa saja yang aku alami.

Hidup ini untuk aku jalani. Tetapi aku terlalu asyik merasakan, berhenti untuk memberikan komentar. Mungkin terdorong oleh banyaknya harapan-harapan baik yang tidak terpenuhi. Aku kurang berani menunjukkan jati diri. Aku berharap perubahan datang sendiri.

Suka dan duka aku jalani.

Posisi individu dalam perubahan sosial

March 30th, 2010, posted in Life Style

Setiap individu akan terikat dalam suatu jaringan sosial yang diinginkannya. Mau atau tidak mau, keterikatannya bisa dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan sosial dari komunitas yang pada saat ini ia berada di dalamnya. Besar kecilnya pengaruh individu tersebut dikarenakan peranan yang dijalaninya.

Transformational leadership

March 20th, 2010, posted in Leadership

Transformational leadership is a leadership approach that is defined as leadership that creates valuable and positive change in the followers with the end goal of developing followers into leaders.

A transformational leader focuses on “transforming” others to help each other, to look out for each other, to be encouraging and harmonious, and to look out for the organization as a whole. With this leadership, the leader enhances the motivation, morale and performance of his followers through a variety of mechanisms. These include connecting the follower’s sense of identity and self to the mission and the collective identity of the organization. By doing the following so the leader can align followers with tasks that optimizes their performance:

  • being a role model for followers that inspires them,
  • challenging followers to take greater ownership for their work,
  • understanding the strengths and weaknesses of followers.

The full range of leadership introduces four elements of transformational leadership:

1. Individualized consideration- the degree to which the leader attends to each follower’s needs, acts as a mentor or coach to the follower and listens to the follower’s concerns and needs. The leader gives empathy and support, keeps communication open and places challenges before the followers. This also encompasses the need for respect and celebrates the individual contribution that each follower can make to the team. The followers have a will and aspirations for self development and have intrinsic motivation for their tasks.

2. Intellectual stimulation-The degree to which the leader challenges assumptions, takes risks and solicits followers’ ideas. Leaders with this style stimulate and encourage creativity in their followers. they nurture and develop people who think independently. For such a leader, learning is a value and unexpected situations are seen as opportunities to learn. The followers ask questions, think deeply about things and figure out better ways to execute their tasks.

3. Inspirational motivation- the degree to which the leader articulates a vision that is appealing and inspiring to followers. Leaders with inspirational motivation challenge followers with high standards, communicate optimism about future goals, and provide meaning for the task at hand. Followers need to have a strong sense of purpose if they are to be motivated to act. Purpose and meaning provide the energy that drives a group forward.

The visionary aspect of leadership are supported by communication skills that make the vision undertandable, precise, powerful and engaging. The followers are willing to invest more effort in their tasks, they are encouraged and optimistic about the future and believe in their abilities.

4. Idealized Influence - Provides a role model for high ethical behavior, instills pride, gains respect and trust.

Menjaga harimau di mulutmu

March 20th, 2010, posted in Life Style

Banyak istilah yang bisa digunakan. Ada orang yang berkata: “Mulutmu adalah harimaumu!” Ada pula yang mengibaratkan bahwa lisan kita bagaikan sebilah pisau tajam yang bisa dengan mudah melukai perasaan orang lain. Layaknya ular yang berbisa, orang lain mengatakan: “Kata-katanya seperti racun.”

Bolak balik tentang menulis

January 26th, 2010, posted in Menjadi Penulis

Maunya memang menjadi penulis. Hanya saja, karena masih saja menganggap diri dalam posisi belajar, bacaan yang dicari selalu saja tentang bagaimana caranya bisa menulis dengan baik. Seperti hari ini, Google Search aku obok-obok untuk mendapat masukan tentang ‘bagaimana menulis’. Yang aku dapat di antaranya adalah:

  • Decide on your topic.
  • Prepare an outline or diagram of your ideas.
  • Write your thesis statement.
  • Write the body.
  • Write the main points.
  • Write the subpoints.
  • Elaborate on the subpoints.
  • Write the introduction.
  • Write the conclusion.
  • Add the finishing touches.

Hampir semuanya sama seperti itu. Tinggal prakteknya saja.

Hidupku adalah untuk dijalani

January 26th, 2010, posted in Perjalanan

Berat. Perasaan itu yang aku rasakan di dalam dada. Terlalu banyak persoalan yang sering membuat aku berpikir ulang, harus aku ubah bagaimana lagi cara hidupku. Selalu saja datang persoalan silih berganti, yang tentu saja aku menjadi tidak bisa merasa nyaman. Persoalan yang terberat adalah ketika aku harus menghadapi orang yang tidak bisa menerima aku apa adanya. Orang yang seperti inilah yang kemudian bersikap sebagai musuhku, secara terbuka atau diam-diam.

Seringkali, orang yang memusuhiku adalah mereka yang berposisi lebih tinggi dariku dalam banyak hal, termasuk status sosialnya. Kalau mereka sudah memusuhi, tidak tanggung-tanggung, maunya aku harus bertekuk lutut di hadapan mereka. Aku harus kalah. Itu yang aku lihat dalam sikap-sikap mereka.

Lantas? Aku tidak bisa diam. Aku selalu memilih sikap seperti cermin. Kalau sikap mereka negatif, buat apa lagi aku bersikap positif.

How to become a visionary leader

November 8th, 2009, posted in Leadership

I just read an article supposed to an answer a certain question related to visionary leadership. To become a visionary leader, here are simple self-coaching tips:

  • See the strengths in others - They use those strengths to encourage teams to their highest level of performance. The visionary leader spends far more of their coaching time building on the strengths of others than dwelling on perceived weaknesses.
  • Build bridges between team members - Not only does the visionary leader see individual strengths, they are able to connect those strengths to form strong teams. They build bridges of experience, training, and education between colleagues.
  • Focus on planning and preparation - It is impossible to be a visionary leader without thoughtful planning and thorough preparation. Visionary leadership doesn’t happen accidentally. A visionary leader relies on the thoroughness of their plan for their eventual success.
  • Push yourself out of your comfort zone - Ask yourself “Am I stagnating, falling into routines or comfort zones?” They look for new challenges and seek out mentors and trainers who can guide them to develop expanded skills and strengths.
  • Do your homework; always make informed decisions -Leaders today have a tremendous advantage in their ability to acquire knowledge via internet research. There literally is no excuse left for leaders to make uniformed decisions, despite the fact that we see it happen frequently.

Terlanjur tidak punya malu

November 5th, 2009, posted in Life Style

Masing-masing pribadi memiliki nilai moral tersendiri untuk merasa malu. Tidak ada standart nilai moral baku dimana semua orang bisa menerima. Aturan baku yang bisa diterima oleh semua orang biasanya dikaitkan dengan nilai-nilai moral pribadi, agama, adat istiadat atau kebudayaan. Perasaan malu berkembang pada seseorang karena orang tersebut merasa memiliki kekurangan pada dirinya, atau dia pernah melakukan kesalahan normatif  yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dipercayainya.

Rasa malu, apalagi budaya malu, sangat terkait dengan kepribadian individu dan kepribadian sosial. Ada orang atau kelompok masyarakata yang dengan sangat  tegas menekankan dan menguatkan budaya malu, yakni agar tidak menjalankan tindakan-tindakan yang dianggap bisa menjatuhkan harga diri. Berbuat salah dan tidak taat terhadap norma-norma agama dianggap perbuatan yang memalukan. Melanggar ada istiadat yang berlaku di dalam masyarakat juga memalukan.

Apabila seseorang sudah terbiasa dengan kekurangan yang ada pada dirinya, dia tidak lagi merasa malu.  Dalam kenyataan lain, apabila dia sudah bisa mengatasi rasa malu yang diakibatkan oleh kekurangannya, entah karena cacat fisik, penampilan, kurangnya harta, atau ketidakmampuan lain, dia akan berubah menjadi lebih punya rasa harga diri. Kita juga diharapkan tidak malu belajar dan bekerja keras. Kondisi seperti dianggap positif dan perlu dikembangkan.

Sebaliknya, rasa malu yang diakibatkan perbuatan dan tindakan yang salah, karena terus menerus dilakukan juga mengurangi rasa pada para pelakunya. Kebiasaan buruk yang selalu dilakukan menyebabkan seseorang kurang peka terhadap nilai-nilai pribadi dan normatif. Karena pergaulan, seseorang atau sebuah kelompok sosial bisa saja menganggap penipuan adalah hal yang bisa. Mereka juga berani terang-terangan untuk berbuat salah.

Penyimpangan normatif terhadap nilai-nilai pribadi dan sosial akan berdampak rusaknya moral pelaku dan etika budaya hidup yang baik di dalam masyarakat. Kalau hal ini berlangsung tanpa adanya penerapan sangsi, dampaknya menjadi semakin serius. Secara personal maupun komunal, nilai-nilai moral yang rusak ini akan mengakibatkan rendah rasa malu di kalangan masyarakat. Dampak ini akan terus berkembang lebih parah lagi, dan pelakunya kemudian disebut tidak punya malu lagi. Akibat dari kondisi ini adalah:

  1. Transformasi nilai-nilai normatif yang berkembang
  2. Tidak ada lagi perbedaan antara baik dan buruk
  3. Masyarakat menjadi bersikap apatis dan permisif
  4. Sanksi sosial tidak membuat pelakunya menjadi jera
  5. Terjadi sebuah kompetisi untuk melakukan hal-hal sensasional.

10 ketrampilan sosial yang diajarkan Dale Carnegie

November 1st, 2009, posted in Leadership, Life Style

Sebuah referensi utama dalam masalah kepemimpinan dan ketrampilan sosial sudah banyak diterapkan di berbagai organisasi. Dale Carnegie merupakan pakar di bidang yang khusus seperti self-improvement, salesmanship, corporate training, public speaking dan interpersonal skills. Sebagai penulis sekaligus dosen, karya-karyanya masih tetap dipelajari orang-orang berkelas sampai sekarang. Di antara bukunya yang terkenal adalah:

  1. Public Speaking and Influencing Men In Business. Association Press.
  2. How to Win Friends and Influence People. A self-help book about interpersonal relations. Simon and Schuster.
  3. How to Stop Worrying and Start Living. A self-help book about stress management. Simon & Schuster.
  4. Lincoln the Unknown by Dale Carnegie. A biography of Abraham Lincoln. Dale Carnegie & Associates, Inc.
  5. The Quick and Easy Way to Effective Speaking. A Revision of Public Speaking And Influencing Men In Business by Dorothy Carnegie. Dale Carnegie & Associates, Inc.
  6. The Leader In You. How to Win Friends, Influence People, and Succeed in a Changing World

Sedikit dari apa yang dituliskan tersebut memberikan pembelajaran sosial yang penting. 10 ketrampilan sosial yang patut dipikirkan demi pengembangan pribadi kita, sebagai apapun status sosial kita, adalah:

Pertama. Kendalikan emosi anda sendiri.

“If you want to be enthusiastic, act enthusiastic.”
Pengembangan pribadi bermuladari diri sendiri. Tidak ada orang yang akan bisa mengubah antusiasme kita terhadap berbagai persoalan yang sedang kita hadapi. Apabila kita mengingin sikap positif, bukan orang lain harus memulainya. Detik ini juga kita harus mengubah pandangan, pemikiran dan perasaan kita tentang apa saja yang menjadi persoalan hidup kita. Berpikir positif berarti menguatkan, sedang berpikir negatif berarti kita melemahkan diri sendiri. Hal ini berarti untuk pribadi maupun kelompok sosial tertentu. Go positive!

Kedua. Tidak ada kaitannya dengan masalah logika.

“When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion.”

Ketika berhubungan, bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain, satu persoalan yang perlu diingat adalah bahwa kita sedang tidak berinteraksi makhluk logis. Tetapi, selalu saja orang yang kita hadapi merupakan makhluk emosional. Siapapun mereka, ternyata kekuatan emosi dan ego mereka lebih dominan dari kekuatan logika dan intelektual mereka. Komunikasi bahasa yang kita gunakan sebagai persiapan untuk menyampaikan pesan dan harapan kita sebelumnya tidak terlalu membantu apabila kita tidak menyadari apakah bahasa tubuh kita ikut menguatkan pandangan kita.

Kekuatan intonasi suara dan bahasa tubuh ternyata jauh lebih besar daripada seluruh rangkaian kalimat yang tersusun rapi dalam komunikasi kita.

Ketiga. Tiga masalah yang harus dibuang jauh

“Any fool can criticize, condemn, and complain but it takes character and self control to be understanding and forgiving.”

Orang Inggris menggunakan istilah tiga “C”. Sementara kita cukup saja menghindari tiga “M” yang bukannya mempererat hubungan kerja tetapi justru merusak kesempatan sekecil apapun. Tidak perlu kita mengkritik, mencela dan juga mengeluh di hadapan lawan bicara kita. Bagian sikap dan perilaku terpenting dalam menjalin hubungan baik dengan sesama kolega atau antara atasan dan bawahan adalah tidak sikap dan tindakan yang menyakit perasaan orang lain. Harga diri merupakan harta yang paling berharga yang tidak boleh ambil dari seseorang. Hanya orang bodoh yang menerapkan pola tiga “M” pada saat berkomunikasi dalam konteks apapun.

Saling mengerti dan saling memaafkan menjadi modal kuat untuk kelanggengan hubungan kerja yang baik.

Keempat. Apa yang terpenting?

“The royal road to a man’s heart is to talk to him about the things he treasures most.”

Nasehat yang sederhana. Tidak perlu kita mengumbar cerita tentang apa-apa yang ada pada kita sendiri. Diam sejenak. Tunjukkan perhatian penuh terhadap lawan bicara yang ada di hadapan kita. Tahan kembali cerita yang kita miliki. Berikan pertanyaan untuk menunjukkan perhatian tentang mereka. Masalah anak, hobi dan pekerjaan  bisa membuat mereka memiliki kesan baik dalam berkomunikasi.

Kelima. Fokus keluar, bukan ke dalam.

arschool-12

communicating with others

“You can make more friends in two months by becoming interested in other people than you can in two years by trying to get other people interested in you.”

Menonjolkan diri dengan mengatakan “saya”, “saya”, dan “saya” tidak akan membuat orang lain tertarik dan simpati. Besar kemungkinan, orang-orang yang mendengar cerita kita ini merasa bosan, tetapi mereka tidak ingin menyinggung perasaan kita. Apalagi bila posisi mereka di bawah kita. Sikap menonjolkan diri justru membuat lawan bicara berusaha menahan diri dan tidak sempat mengutarakan perasaan mereka. Egoisme menghalangi keharmonisan hubungan sosial.

Untuk membangun komunikasi dan interaksi sosial yang bermakna, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bercerita dan mengutarakan persoalan mereka akan lebih penting di sini.

Keenam. Pengendalian diri dan emosi.

“The person who seeks all their applause from outside has their happiness in another’s keeping.”

Kemampuan seseorang untuk menahan diri penentu kebahagiannya. Mengumbar emosi ketika berhadapan dengan orang lain menjadikan berkurangnya rasa simpati mereka terhadap kita. Misalkan kita menjadi pimpinan, maka bawahan kita hanya merasa takut kalau tidak memperhatikan dan mentaati perintah kita. Sementara itu, kemampuan menahan diri akan menjadi sukses dalam menjalin komunikasi yang harmonis.

Ketujuh. Tidak ada yang menghalangi.

“Instead of worrying about what people say of you, why not spend time trying to accomplish something they will admire.”

arschool-51Dalam pergaulan, perasaan cemas sering menghantui kitatentang apa yang akan terjadi apabila kita berusaha untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sosok pemimpin mungkin merupakan orang yang disegani, dan bawahan yang berusaha menyampaikan gagasan merasa ragu-ragu melangkah kakinya untuk mendekat.

Persoalannya tidak terletak kepada siapa yang akan kita hadapi. Namun, lebih sering yang menjadi penentu adalah rasa percaya diri yang kita miliki. Kalau kita memiliki motivasi dan percaya diri yang kuat, pemikiran yang kita sampaikan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita bisa disampaikan dengan lancar. Keraguan bahwa apa yang kita sampaikan nanti akan dianggap salah seharusnya membuat kita berani mengoreksi kembali persiapan diri kita. Pemikiran yang baik dan logis, terutama dengan cara penyampaian yang penuh percaya diri, akan membuat audiensi kita berhasil dan diterima banyak orang.

Kedelapan. Perhatikan apa yang ada di dalam.

“There is only one way… to get anybody to do anything. And that is by making the other person want to do it.”

Dasar orang lain mau melakukan apa yang kita harapkan adalah munculnya rasa peduli dan motivasi yang ada di dalam diri mereka. Sekuat apapun pengaruh kita, belum tentu kita bisa memaksa orang lain, terutama yang teguh pendiriannya, untuk mengakui dan melaksanakan gagasan yang kita berikan kepada mereka.

Efektivitas seorang pemimpin hanya akan terbukti bukan karena pandangannya, melainkan juga karena dukungannya terhadap kesuksesan bersama. Komando atau perintah pemimpin juga bisa ditaati kalau sang pemimpin memberikan dukungan lainnya, misalkan dengan perhatian dan bimbingan.

Kesembilan. Cara memenangkan argumentasi.

“The only way to get the best of an argument is to avoid it.”

Berargumentasi atau perang mulut tidak akan menyelesaikan masalah. Persoalan organisasi dan hubungan sosial yang baik hanya bisa dibangun dengan adanya saling pengertian di antara sesama kita. Pemimpin ataupun bawahan pada dasarnya memiliki kesamaan dan kesejajaran dalam berpendapat. Apabila sebuah debat kusir terjadi, sebaiknya argumentasinya tidak perlu dilanjutkan. Ada baiknya saat itu kita pergunakan untuk menjalankan proses ‘cooling down’, sampai masing-masing orang yang terlibat sama-sama bisa menahan emosinya.

Kesepuluh. Bukan hanya sekedar kata-kata.

“There are four ways, and only four ways, in which we have contact with the world. We are evaluated and classified by these four contacts: what we do, how we look, what we say, and how we say it.”

Kontak sosial di mana saja memberlakukan karakteristik yang sama. Hubungan baik kita dengan banyak orang di sekitar ternyata bukan dibangun dengan gagasan-gagasan yang kita sampaikan. Ungkapan sederhananya, “Ini bukan hanya janji, melainkan bukti.” Sebagian orang begitu percaya diri dengan pemikirannya. Namun dalam kenyataan, banyak orang yang tidak mempercayainya. Pernyataan yang tidak sesuai dengan sikap dan perilaku akan selalu mendatangkan masalah bagi orang itu sendiri maupun bagi orang di sekitarnya.

Sukses dalam menjalin hubungan sosial yang harmonis dan organisasi yang efektif tentu saja menerapkan pola dasar kepemimpinan yang jelas. Perhatian orang lain di mana saja selalu akan memperhatikan empat persoalan: apa yang kita lakukan, bagaimana kita melihatnya, apa yang kita utarakan, dan bagaimana cara kita mengutarakannya.


Kepemimpinan dan foto hitam putih

October 29th, 2009, posted in Leadership, Perspektif
ayik

This photo was taken when I visited a painter's studio.

Belajarlah memimpin kepada orang yang ahli dalam masalah kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang lahir begitu saja dari rahim ibunya. Pembelajaran yang baik dan efektif dan menjadikan seorang pemimpin beralih dari posisi ditakuti menjadi disayangi oleh banyak orang. Pembalajaran juga yang mengarahkan seorang pemimpin dari asalnya meminta dihargai oleh rakyatnya, 180 derajat menghargai betapa pentingnya arti rakyatnya bagi kelanggengan kedudukannya. Hanya dengan menguasai ilmu kepemimpinan yang baik sajalah maka seorang pemimpin bisa dan mampu menjadi pemimpin yang selalu menjaga amanah dan tangung-jawabnya.

Menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin tidak selalu menciptakan seorang diktator yang merasa berkewajiban untuk mengacungkan telunjuknya kepada anak buah atau bawahannya dengan mulutnya mengeluarkan perintah sakral, yaitu komando yang tidak boleh dibantah sama sekali. Memimpin bukan hanya perkara salah dan benar. Amanah ini akan sangat tidak indah apabila hanya berkonsep hitam dan putih, seperti tidak memiliki sentuhan warna pelangi.

Rasanya sangatlah banyak orang yang kebetulan menduduki jabatan, berperanan sebagai seorang pemimpin,  meskipun dia sendiri tidak memiliki dasar-dasar jiwa kepemimpinan. Tidak perlu, kata sebagian orang yang mendukungnya. Seperti apapun wujud dan kiprah orangnya, dia sudah ditetapkan sebagai pemimpin. Semua orang berwajiban patuh dengan apapun kebijakan yang muncul berkat keberadaan dan peranannnya di sana. Mereka semua percaya, siapapun pemimpin yang ada maka akan sama saja bagi semua orang yang berada di lingkungan tersebut.

Kondisi seperti ini sebenarnya sulit sekali dipahami dengan menggunakan nalar dan akal yang selalu berputar-putar penuh pertanyaan. Pantas juga mereka berdalih sesuai dengan pemikiran mereka sendiri. Namun, dengan cara apupun, apabila mereka sempat megeluarkan pemikiran tersebut di depan khalayak, mereka sendiri yang akan dianggap bersalah. Memang begini adanya. Sudah budaya!

Malu membangun budaya malu!

October 29th, 2009, posted in Leadership, Life Style, Perspektif

Katanya, malu adalah sebagaian dari iman. Oleh-oleh dari study banding yang banyak menghabiskan biaya masyarakat, seorang pejabat yang didampingi beberapa orang kepercayaan mendapati kenyataan bahwa di negeri seberang sana, malu selalu menjadi sebuah budaya positif untuk membangun komunitas yang unggul. Saking bangganya dengan oleh-olehnya tersebut, sang pejabat mengajak seluruh masyarakatnya untuk menerapkan budaya malu di negerinya sendiri.

Sang pejabat menetapkan orang pilihannya untuk merangkai kata malu menjadi 17 item malu, dengan tujuan membangun budaya malu, khusus agar bisa diterapkan kepada masyarakat, yakni bisa mereka semua taat dan patuh kepada pejabatnya.

17 Ayat Malu sudah tersusun rapi dengan rangkaian kata yang panjang dan agak sulit dicerna oleh pembaca pakta tersebut. Setelah print-out dikukuhkan sebagai yang syah, meskipun tidak usah dimusyawarahkan dengan masyarakat yang akan dikenai budaya malu tersebut, pembuat konsep itu kemudian berangkat ke toko percetakan untuk dibuatkan banner seperti layaknya iklan layanan masyarakat.

Bannernya pun sudah jadi, dan kemudian dilekatkan papan selebar 1 meter kali 1,2 meter persegi. Orang yang sibuk dengan pakta budaya malu adalah staff bagian sarana dan prasarana. Dengan membawa palu di tangannya, orang tersebut lalu mengajak seorang teman lainnya. Si teman disuruh memegangi papan. Sementara itu dia sendiri yang memalu papan banner tersebut.

Hanya orang tersebut yang Malu membangun budaya malu.

Stop berkeluh kesah!

October 23rd, 2009, posted in Leadership, Life Style

Dalam berbagai perspektif, keluh kesah  adalah sebuah tanda yang menunjukkan bahwa seseorang tidak mampu menjalani proses hidup dengan lancar dan sukses. Karena tidak berdaya, orang tersebut mengekspresikannya dengan ungkapan-ungkapan yang memperjelas kegagalannya untuk bangkit, dan berjuang kembali meraih mimpi-mimpi kehidupan. Entah keluh kesahnya ditunjukkan kepada orang lain atau untuk konsumsi pribadi, sikap ini akan mempengaruhi hampir seluruh proses perjalanan hidup di kemudian hari. Banyak berkeluh kesah menyebabkan rusaknya jaringan motivasi kinerja kita.

“Go Positive!” Inilah gerakan pribadi yang wajib kita promosikan setiap hari, sejak kita terbangun di pagi hari. Hanya berbekal Postive Thinking sajalah kita akan bisa sukses melangkah menuju dunia baru yang lebih cerah.

Lagi krisis kok harus menjadi pemimpin!

October 22nd, 2009, posted in Leadership

Sudah seharusnya, seperti yang diharapkan banyak orang, seorang pemimpin perlu memiliki semangat hidup untuk sukses ala Coca Cola–Di mana saja, dan Kapan Saja. Dalam memenuhi amanah dan tanggung jawabnya dalam memimpin, orang-orang yang dipilih atau diangkat menjadi pemimpin tidak boleh bersikap lemah, namun juga tidak boleh bersikap keras sehingga kebijakannya justru merugikan orang-orang yang dipimpin. Di mana pun, seorang pemimpin berfungsi untuk membimbing, melindungi, mengayomi dan mensejahterakan.

Pada saat dunianya tidak gonjang-ganjing, amatlah mudah seorang pemimpin untuk menjalankan tugasnya. Berbagai kebijakan bisa berjalan normal kalau keadaannya biasa-biasa saja. Situasinya akan berbalik 180 derajat apabila krisis datang melanda. Apabila situasinya tidak mendukung, pada saat krisis, banyak pemimpin yang akan kelabakan untuk mengendalikan kekuasaannya. Berbagai strategi yang biasa dia gunakan tidak berjalan efektif lagi.

Don’t panick my leaders! Berikut ini beberapa tip yang bisa berguna pada saat krisis datang dan mengaduk-aduk pikiran jernih kita:

  • Don’t point fingers when you are to blame.
  • Don’t try to go it alone – you will fail.
  • Don’t go for the quick fix.
  • Don’t forget the media – they hang on every word.
  • Don’t shy away from opportunity – come out swinging.
  • Don’t be afraid to change your leadership style.
  • Don’t ever, ever waste a good crisis - it is your opportunity to change your company for the better
  • Do get behind the podium and inspire your company back to profitability.
  • Do get down in the weeds with your managers and work the problem.
  • Do focus on long-term viability rather than short-term profits.
  • Do be forthright in acknowledging fault.
  • Do encourage a culture of candidness. Do call on trusted mentors when you need a fresh perspective.
  • Do keep a close eye on the balance sheet (in crisis, cash is king).
  • Simply, lead with every intention of having an aggressively positive impact on your company, employees, and customers. Crisis or not.

nugie-and-kamalWorld Business Forum

Sedikit penjelasan dari kutipan di atas, yang sama-sama kita pahami, semuanya tentang anjuran untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas. Kita tidak layak untuk main tunjuk, apalagi pada saatnya mencari sumber kesalahan. Tidak perlu tergesa-gesa, apabila harus melaksanakan semua perubahan sendiri. Telinga harus kita buka lebar-lebar, sehingga kita usah melepaskan kesempatan apa pun. Gaya kepemimpinan pun perlu diubah, dengan mengusahakan ide-ide dari bawah. Karena persoalan yang lebih penting adalah keuntungan jangka panjang, setiapa masalah perlu diperjelas, transparan dan menjamin kelangsungan manajemen organisasi.

Apabila menulis dibicarakan

October 4th, 2009, posted in Menjadi Penulis

Tidak semua bisa menulis, meskipun hampir semua orang bisa berbicara apa saja. Secara nyata kemampuan berkomunikasi efektif lewat sebuah tulisan menjadi ganjalan besar bagi banyak orang untuk meraih kesempatan besar dalam hidup, terutama pada kalangan terdidik. Naifnya lagi, kita bisa mengamati betul bahwa ketrampilan menulis bukan menjadi sebuah prioritas penting di sekolah.  Kalau boleh memberikan kritik, kita menyaksikan sendiri bahwa anak-anak didik kita hanya pintar memilih a, b, c, d, dan e setelah bersekolah selama enam tahun di sekolah dasar, tiga tahun di sekolah lanjutan pertama dan tiga tahun lagi di sekolah menengah atas.

Menulis adalah kemampuan berbahasa yang sangat khusus dibandingkan dengan beberapa kemampuan berbahasa lain seperti menyimak, berbicara dan membaca. Mereka yang mahir berbahasa dengan ketiga ketrampilan tersebut tidak akan serta merta bisa mengekspresikan berbagai pesan kebahasaan secara bermakna. Bisa jadi kalau mereka mencoba menulis pada kali pertama, dan kita berkesempatan untuk membacanya, kita bisa merasakan dan mengetahui betapa kacaunya gagasan dan pesan yang mereka sampaikan dalam tulisan mereka.

Tidak seperti mereka yang sudah terlatih menulis di mana pun medianya, bisa dirasakan bahwa pesan, gagasan dan argumentasi mereka sangat rancak dan mudah dimengerti. Komunikasi mereka begitu logis dan masuk di akal. Komentarnya lantas, “Kok mudah begitu dia menyampaikannya?”

Derita si miskin

October 3rd, 2009, posted in Perjalanan

Sebuah lukisan yang menggambarkan penderitaan si miskin terpajang di dinding, di dalam gedung FPBS, UNESA. Sungguh memilukan. Kalau miskin jangan pernah bilang-bilang sama orang lain. Jangan juga dilepaskan liar dan membuat banyak orang lain mengetahui. Perlakukan si miskin, terutama yang masih kelaparan, sesuai dengan derajatnya. Begitulah kiranya pesan yang terlihat di sekitar kita. Di mana ruang berbagi di antara kita manusia Indonesia?

Heal The World

October 3rd, 2009, posted in Perjalanan

There’s a place in your heart, and I know that it is love

And this place could be much brighter than tomorrow

And if you really try, you’ll find there’s no need to cry

In this place you’ll feel, there’s no hurt or sorrow
There are ways to get there

If you care enough for the living

Make a little space, make a better place
* Heal the world make it a better place

For you and for me and the entire human race
** There are people dying if you care enough for the living

Make a better place for you and for me
If you want to know why, there’s a love that cannot lie

Love is strong, it only cares for joyful giving if we try

We shall see in this bliss, we cannot feel fear or dread

We stop existing and start living
Then it feels that always love’s enough for us growing

So make a better world, make a better world
[Repeat * , **]
And the dream we were conceived In will reveal a joyful face

And the world we once believed in will shine again in grace

Then why do we keep strangling life wound this earth crucify

Its soul though it’s plain to see this world is heavenly be God’s glow
We could fly so high let our spirits never die in my heart

I feel you are all my brothers create a world with no fear

Together we’ll cry happy tears see the nations turn

Their swords into plowshares
We could really get there if you cared enough for the living

Make a little space, to make a better place
[Repeat * , ** , * , **]
[Repeat * , ** , ** , **]
You and for me (x11)

Tertarik dengan Internet Sehat

September 13th, 2009, posted in Blogging

Internet Sehat adalah sebuah gerakan yang dijalankan oleh sebuah organisasi dengan website induknya bernama ictwatch.org. Karena saya termasuk blogger yang masih ingusan, baru satu tahun ngeblog, misi dalam organisasi ini menarik perhatian saya. Sebagai blogger sendiri saya belum pernah peduli apakah kegiatan ngeblog yang saya lakukan selama ini bisa dikatakan sehat atau tidak sehat. Barangkali karena sering telat makan, kegiatan negblog saya menjadi tidak sehat. Duduk berlama-lama di depan layar komputer juga menjadikan kesehatan saya terganggu. Merokok terus selama ngeblog juga tidak sehat. Apakah demikian itu yang dimaksudkan?

internet-sehat

Tentu saja tidak. Beberapa informasi yang saya dapatkan tidak membenarkan prasangka ini. Salah satu persoalan yang diangkat program Internet Sehat adalah menyangkut kebebasan berekspresi di dunia maya.

One of the points that I shared about advocacy movement is a version of Internet Sehat people (http://www.internetsehat.org) on the pro freedom of expression on the Internet safely and wisely, with the approach to self-censorship and community empowerment. (Sejarah Program Internet Sehat)

Saya yakin bahwa seorang blogger yang mampu bersikap dewasa akan merasa betul pengaruh postingan yang tersebar di dunia maya ini terhadap banyak orang. Sikap bebas tanpa batas merupakan satu hal yang perlu dihindari agar postingan kita nantinya tidak menyimpang, dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Ini yang baru saya pahami kali ini.

Selain dari persoalan di atas saya juga mendapatkan pelajaran bermutu untuk bisa mengkategorikan jenis wblog yang kita miliki. Beberapa kategori itu bisa saya cuplik di sini:

  1. Education blog (blog tentang dunia pendidikan, formal/informal, atau tentang ilmu pengetahuan yang relevan dan digunakan dalam proses belajar-mengajar)
  2. Family blog (blog tentang problematika keluarga, kesehatan ibu-anak, kehidupan remaja, perencanaan keuangan dan rumah/taman)
  3. Student blog (blog yang dibuat dan dikelola oleh siswa SD-SMP-SMA, baik yang sifatnya blog personal, kelompok, maupun mading online)
  4. Travel & culinary blog (blog tentang turisme, wisata alam, wisata kuliner, aktifitas in/out door serta informasi kebudayaan Indonesia)
  5. Techno blog (blog tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru, termasuk soal ICT, software,hardware maupun sains umum)
  6. Citizen journalist  blog(blog tentang ulasan,liputan, analisis yang terkait dengan aneka berita/informasi yang dekat dekat dengan pembaca serta faktual)
  7. Inspirative and inspiring blog (blog dengan konten yang unik dari sisi kreativitas isi, yang tidak termasuk dari kriteria di atas)
  8. Lifestyle blog (blog yang kental dengan tulisan gaya hidup, semisal shopping, buku, film, musik, pernak-pernik, otomotif, dan sebagainya)
  9. Gado-gado blog (blog yang isinya bervariasi dan aneka macam jenis artikel, tetapi disajikan dengan karakter yang kuat dari penulisnya)
  10. Best of The Best blog (1 blog pilihan per 3 bulan)
  11. Super Blog (1 blog pilihan menjelang akhir tahun)

Bagi saya sederhana saja dalam memahami informasi ini: “Mau ngeblog sehat, pakai akal sehat!”

Cerdas beremosi

September 12th, 2009, posted in Life Style

Knowing others and knowing oneself, in one hundred battles no danger. Not knowing the other and knowing oneself, one victory for one loss. Not knowing the other and not knowing oneself, in every battle certain defeat.

- Sun Tzu, The Art of War

Dalam catatan seorang teman kita mempelajari satu persoalan yang penting bahwa  kita tidak bisa mengandalkan kecerdasan semata, yaitu intelijensi atau IQ. Dulu banyak di antara kita yang masih membanggakan nilai IQ yang tinggi, artinya masa depan kita pasti terjamin dan kita akan menjadi orang sukses. Kesempatan untuk menikmati pendidikan di perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang prestisius sudah pasti ada di tangan.

Namun, sejalan dengan penelitian ilmiah di bidang psikologi kita pun mengetahui bahwa IQ tinggi tidak selalu berimbas dengan sukses dalam kehidupan pribadi, di dalam rumah tangga, di  dunia kerja, serta pergaulan hidup harmonis di dalam masyarakat. Kita juga sering mendengar seorang teman yang pintar tetapi tidak bisa bergaul dan mengalami perasaan sepi seumur hidupnya. Banyak orang yang bahkan tidak bisa memanfaatkan kecerdasan yang dimiliki untuk membahagiakan diri sendiri. Artinya, meskipun mereka orang pintar tetapi kepintaran mereka menjadi tidak bermanfaat.

Penelitian ilmiah, yang dimulai tahun 1920-an sampai sekitar tahun 1990, yang terutama dimotori oleh J. D. Mayer and P. Salovey merangkum lima karakteristik kecerdasan emosional yang dimiliki manusia, yakni termasuk pada dua domain:

Interpersonal

  1. Memiliki empati yang membuat seseorang peka terhadap perasaan dan masalah orang lain. Seseorang dianggap mampu berempati apabila ia tidak hanya bisa berpikir dengan dasar  sudut pandangnya sendiri melainkan juga mampu menghargai sudut pandang orang lain.
  2. Mampu menjalin hubungan harmonis orang lain. Sikap cerdas seseorang secara emosional bisa membuatnya merasakan dan mengatasi adanya perubahan-perubahan hubungan interpersonal selembut apapun. Dengan begini ia juga akan berusaha menjaga perasaan dan sikapnya agar tidak merusak hubungannya dengan orang lain.

Intrepersonal

  1. Memiliki sikap mawas diri. Kemampuan ini membuat seseorang bisa merasakan perubahan-perbahan emosional di dalam dirinya. Secara sadar seseorang bisa memonitor kondisi perasaan dan kejiwaannya.
  2. Memiliki kemampuan mengendalikan emosi. Dalam perjalanan hidup kemampuan untuk tidak bersikap emosional sering bisa membantunya menghindari dari persoalan-persoalan nyata dalam kontak sosial.
  3. Mampu memotivasi diri sendiri. Sikap emosional bukannya tidak berguna. Bila seseorang mampu menggunakan emosinya untuk memompa semangat, emosi menjadi daya juang dalam hidupnya agar ia lebih bermotivasi.

Secara sederhana kita bisa mengulas kembali bahwa emosi bisa menjadi satu hal positif, tetapi di lain waktu juga akan berubah menjadi negatif. Keberhasilan seseroang kemungkinan bermula dari kecerdasannya mengendalikan diri dan emosinya. Kegagalan seseorang, bisa tidak bisa lantaraan is tidak mampu mengendalikan emosinya.

Tentang cara menulis kreatif

September 11th, 2009, posted in Menjadi Penulis

Saya sendiri tidak membatasi diri apakah tulisan nantinya termasuk yang kreatif atau justru tidak kreatif. Dari sekian banyak tulisan yang lahir dari jari-jari tangan saya yang tidak bisa mengetik sebelas jari ini, saya merasa yakin bahwa metode yang saya pakai bisa disebut ‘ekletif’ atau sembarangan saja. Tidak ada metode khusus. Apa saja yang tersirat di benak saya bisa muncul menjadi tulisan, paling tidak postingan sederhana.

Para penulis yang sudah bisa dikategorikan ahli lebih hati-hati dalam merancang tulisan mereka agar layak baca. Mereka boleh jadi menggunakan outline atau sketsa di atas lembaran kertas kecil sebagai dasar tulisan mereka.  Sedang saya sendiri tidak terlalu peduli apakah tulisan saya nanti dibaca orang atau hanya sekedar bermanfaat untuk melegakan ruang hati yang sudah penuh sesak dengan bermacam-macam pikiran. Jadi saya juga tidak menggunakan kerangka tulisan dalam bentuk apapun. Begitu menyentuh keyboard, tangan saya terus bergerak menuruti gagasan yang berkelebat. Tidak banyak pikiran saya untuk memperhatikan trik-trik yang sebelumnya pernah saya pelajari.

Meski demikian itu yang saya percayai tentang gaya menulis, paling tidak di dalam kepala saya bermunculan rekaan-rekaan tentang apa yang akan terlahir dalam tulisan saya. Serangkaian strategi yang benar-benar saya pertahankan ada di dalam proses menulis adalah what, who, where, why, when, dan how. Untuk lebih solidnya tulisan saya, memang sketsa akan lebih membantu. Tetapi saya tidak terlalu mengandalkannya. Saya lebih suka bebas dari aturan-aturan yang ribet itu. Saya lebih senang membebaskan pikiran jalang saya.